www.papercutzinelibrary.org – Kunjungan Mendiktisaintek ke reaktor plasma dingin Unisba di TPS Arcamanik menghadirkan napas segar bagi masa depan pendidikan sains Indonesia. Bukan sekadar seremoni pejabat, pertemuan ini memperlihatkan bagaimana riset teknologi tinggi bisa hadir dekat dengan keseharian warga. Di lokasi pengelolaan sampah itu, konsep besar energi, lingkungan, juga rekayasa material diterjemahkan menjadi alat konkret yang membantu persoalan kota. Momentum ini patut dibaca sebagai sinyal serius bahwa perguruan tinggi dituntut lebih berani turun ke lapangan, memperkaya pendidikan terapan lewat proyek nyata yang menyentuh problem publik.
Situasi TPS Arcamanik mengingatkan bahwa pendidikan tidak seharusnya terkurung dinding kampus. Reaktor plasma dingin Unisba justru memutar balik asumsi lama: tempat sampah dapat berubah jadi laboratorium hidup, tempat mahasiswa, dosen, juga masyarakat belajar bersama. Kunjungan Mendiktisaintek menegaskan keterkaitan erat antara kebijakan pendidikan tinggi, riset mutakhir, serta kebutuhan lingkungan kota. Bila dikelola serius, kolaborasi semacam ini sanggup melahirkan ekosistem belajar baru, tempat ilmu pengetahuan tidak berhenti di jurnal, tetapi menjelma solusi nyata bagi persoalan sampah perkotaan.
Pendidikan Sains di Tengah Tumpukan Sampah Kota
Tidak banyak orang membayangkan fasilitas pendidikan sains berteknologi tinggi berdiri di area pengolahan sampah. Namun reaktor plasma dingin Unisba di TPS Arcamanik menunjukkan kenyataan berbeda. Di tengah hiruk pikuk truk sampah, hadir instalasi riset yang memadukan fisika plasma, rekayasa listrik, serta isu keberlanjutan. Bagi mahasiswa, lokasi ini menjadi ruang belajar otentik. Mereka tidak hanya membaca teori plasma di buku, tetapi menyaksikan bagaimana gas terionisasi itu memengaruhi proses dekomposisi, pengurangan bau, bahkan kemungkinan pemrosesan ulang material buangan.
Dari sudut pandang pendidikan, kehadiran reaktor di TPS menarik karena membongkar jarak antara konsep kelas dan realitas. Mahasiswa teknik, sains lingkungan, juga program studi lain memperoleh laboratorium hidup. Mereka bisa mengukur emisi, memetakan jenis sampah, merancang prosedur keselamatan kerja, sekaligus berdialog bersama petugas lapangan. Interaksi ini membentuk pemahaman holistik. Ilmu tidak lagi berdiri terpisah dari faktor sosial, ekonomi, ataupun budaya setempat. Model pembelajaran seperti ini menumbuhkan kepekaan, selain kompetensi teknis yang kerap dikejar perguruan tinggi.
Kunjungan Mendiktisaintek memperkuat pesan bahwa pendidikan tinggi perlu keluar dari zona nyaman. Hadirnya pejabat kementerian di TPS memberi legitimasi institusional terhadap model belajar berbasis masalah nyata. Di sini, kampus bukan hanya pemasok lulusan, tetapi mitra pemerintah daerah sekaligus warga sekitar. Reaktor plasma dingin menjadi jangkar kolaborasi tersebut. Melaluinya, mahasiswa belajar melakukan riset terstruktur, pemerintah mendapatkan solusi teknologi, sedangkan masyarakat merasakan langsung manfaat pengelolaan sampah yang lebih terkendali. Jika pola ini disebarluaskan, wajah pendidikan sains Indonesia bisa berubah cukup drastis.
Riset Plasma Dingin: Dari Teori ke Manfaat Sosial
Teknologi plasma dingin sering terdengar abstrak bagi publik. Di ruang kuliah, konsep plasma dijelaskan sebagai fase materi, terpisah dari padat, cair, serta gas. Namun di TPS Arcamanik, istilah itu punya wujud yang sangat konkret. Reaktor memanfaatkan plasma berenergi cukup tinggi untuk memicu reaksi kimia tertentu, tetapi tetap berada pada suhu relatif rendah untuk komponen sekitarnya. Aplikasi ini membuka peluang pengurangan patogen, penurunan bau menyengat, hingga praproses material sebelum masuk tahap pengolahan lanjutan. Mahasiswa melihat langsung bagaimana prinsip fisika melahirkan inovasi terukur.
Pendidikan sains sebetulnya selalu membutuhkan jembatan antara teori dan praktik. Reaktor plasma dingin menawarkan jembatan cukup kokoh untuk banyak disiplin ilmu. Mahasiswa fisika dapat mengkaji parameter discharge, mahasiswa teknik elektro mengoptimalkan rangkaian catu daya, sementara calon sarjana lingkungan mengukur dampak ekologis proses itu. Dari sisi sosial, proyek ini membantu menjelaskan kepada warga sekitar bahwa teknologi bukan sekadar mesin rumit. Teknologi bisa hadir sebagai tetangga ramah yang menurunkan gangguan bau dan potensi penyakit. Di titik inilah, riset plasma dingin mengambil peran edukatif sekaligus transformatif.
Dari sudut pandang pribadi, model integrasi riset jenis ini menantang pola lama pendidikan tinggi yang terlampau berorientasi kelas. Saya melihat reaktor plasma dingin di TPS Arcamanik sebagai simbol pergeseran paradigma. Sains tidak lagi ditempatkan di atas menara gading, melainkan dibiarkan bersentuhan langsung dengan tanah becek dan tumpukan sampah. Hubungan dua dunia tersebut memang tidak selalu mulus. Ada persoalan biaya operasional, resistensi warga, juga keterbatasan kebijakan daerah. Namun justru di ruang gesekan itu mahasiswa belajar mengenai kompleksitas penerapan teknologi. Pengetahuan mereka tumbuh lebih matang karena terbiasa bergulat bersama kenyataan.
Masa Depan Pendidikan Berbasis Tantangan Nyata
Kunjungan Mendiktisaintek ke reaktor plasma dingin Unisba di TPS Arcamanik seharusnya dibaca sebagai undangan terbuka bagi reformasi pendidikan tinggi. Kampus diajak merancang kurikulum yang menempatkan tantangan nyata sebagai pusat pembelajaran, bukan sekadar ilustrasi. Proyek pengolahan sampah berteknologi plasma bisa menjadi prototipe. Mahasiswa belajar lintas disiplin, merancang solusi teknis, memikirkan keberlanjutan ekonomi, mengelola komunikasi publik, hingga menyusun rekomendasi kebijakan. Bagi saya, masa depan pendidikan sains Indonesia akan ditentukan seberapa berani institusi membuka diri terhadap kolaborasi serupa. Jika keberanian tersebut tumbuh, TPS, sungai tercemar, kawasan pesisir rentan abrasi, ataupun desa terpencil berpotensi menjadi ruang belajar luas, tempat teori bertemu kenyataan, lalu melahirkan generasi ilmuwan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peka terhadap denyut persoalan bangsanya.

