0 0
Risiko Dehidrasi Puasa Akibat Kopi dan Teh Berlebih

Risiko Dehidrasi Puasa Akibat Kopi dan Teh Berlebih

Read Time:2 Minute, 58 Second

www.papercutzinelibrary.org – Puasa sering menjadi momen untuk memperbaiki pola makan serta minum. Namun, tanpa sadar, banyak orang justru menambah konsumsi kopi maupun teh saat sahur dan berbuka. Kebiasaan ini dianggap membantu menghalau kantuk serta meningkatkan fokus. Padahal, di balik rasa nyaman tersebut, tersembunyi risiko dehidrasi yang tidak bisa disepelekan.

Profesor gizi seperti Ali Khomsan kerap mengingatkan bahaya kekurangan cairan selama puasa. Tubuh sudah menahan asupan air belasan jam, lalu masih dibebani minuman bersifat diuretik. Kombinasi ini bisa memicu risiko dehidrasi lebih besar, terutama pada cuaca panas atau aktivitas tinggi. Tulisan ini mengulas hubungan kopi, teh, puasa, serta bagaimana menyiasatinya secara bijak.

Mengenal Risiko Dehidrasi Saat Puasa

Risiko dehidrasi muncul ketika cairan keluar lebih banyak daripada yang masuk. Saat puasa, jendela minum sangat terbatas, bahkan sering terlewat karena fokus pada makanan. Akibatnya, tubuh memulai hari dengan cadangan cairan yang sebenarnya belum optimal. Jika sepanjang siang udara terik, keringat menguap perlahan tanpa terasa. Pada akhirnya, lemas, pusing ringan, dan konsentrasi menurun pun datang tanpa disadari.

Kondisi kekurangan cairan tidak selalu ditandai rasa haus kuat. Beberapa orang jarang haus, namun warna urin menggelap serta bau menyengat. Bibir kering, kulit terasa kusam, juga muncul lebih cepat. Inilah alasan risiko dehidrasi saat puasa sering terabaikan. Kita mengira tubuh baik-baik saja, padahal sedang berjuang mempertahankan volume darah dan tekanan agar tetap stabil.

Dampak jangka pendek barangkali “hanya” rasa letih atau sakit kepala. Namun, bila berulang sepanjang bulan, tubuh bisa mengalami stres fisiologis. Fungsi ginjal bekerja ekstra, jantung memompa lebih keras, hingga produktivitas menurun. Di titik ini, pilihan minuman ketika sahur maupun berbuka berperan besar. Kopi dan teh yang terasa menenangkan justru berpotensi menambah risiko dehidrasi bila tak diatur.

Peran Kopi, Teh, dan Kafein terhadap Cairan Tubuh

Kopi serta teh mengandung kafein yang bersifat diuretik ringan. Artinya, produksi urin meningkat sehingga cairan keluar lebih banyak. Dalam keadaan tidak berpuasa, tubuh masih bisa menyeimbangkan melalui minum sewaktu-waktu. Namun, ketika jam minum dibatasi, efek ini berubah signifikan. Segelas kopi kental di waktu sahur mungkin membantu mata tetap terbuka, tetapi berpotensi membuat cairan terbuang lebih cepat beberapa jam kemudian.

Perlu diluruskan, kopi maupun teh tidak otomatis menyebabkan dehidrasi berat. Banyak penelitian menyebut efek diuretik kafein cenderung moderat pada peminum rutin. Meski begitu, konteks puasa berbeda. Interval tanpa minum lebih panjang, sering kali disertai aktivitas fisik atau perjalanan. Risiko dehidrasi meningkat karena tubuh tidak punya kesempatan mengganti cairan yang hilang akibat kafein, keringat, serta pernapasan.

Dari sudut pandang pribadi, kopi atau teh masih bisa dinikmati saat puasa, asalkan porsinya bijak. Masalah muncul ketika semua cairan sahur hampir seluruhnya berupa teh manis atau kopi susu. Air putih justru tersisih. Pendekatan seperti itu menjadikan kafein sebagai raja, sementara kebutuhan hidrasi dasar diabaikan. Bukan minum kopi serta teh yang salah, melainkan prioritas asupan cairan yang perlu diatur ulang.

Strategi Minum Sehat untuk Menekan Risiko Dehidrasi

Langkah sederhana mengurangi risiko dehidrasi adalah menjadikan air putih sebagai pusat strategi minum. Pola populer 2–4–2 bisa diterapkan: dua gelas saat berbuka hingga sebelum tarawih, empat gelas setelah tarawih sampai menjelang tidur, dua gelas lagi ketika sahur. Di sela-sela, barulah menambahkan kopi atau teh seperlunya, bukan sebaliknya. Kurangi kopi sangat pekat atau teh terlalu manis, sebab gula tinggi juga dapat menambah rasa haus. Pilih jeda minimal satu jam antara konsumsi kafein dan waktu tidur agar kualitas istirahat terjaga. Makanan tinggi air seperti buah segar, sup bening, serta sayuran berkuah membantu melengkapi hidrasi. Dengan cara ini, kenikmatan kopi serta teh tetap hadir, sementara risiko dehidrasi selama puasa dapat ditekan. Refleksinya, puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi juga seni mengelola cairan tubuh secara sadar, agar ibadah lancar sekaligus kesehatan terjaga sepanjang bulan suci.

Happy
0 0 %
Sad
0 0 %
Excited
0 0 %
Sleepy
0 0 %
Angry
0 0 %
Surprise
0 0 %
Fajar Sutrisna

Share
Published by
Fajar Sutrisna

Recent Posts

Sapi Kurban Presiden Prabowo Bikin Kagum Warga Seluma

www.papercutzinelibrary.org – Sapi kurban presiden prabowo kembali menyita perhatian publik, kali ini di Kabupaten Seluma,…

10 jam ago

Gelar Adat Dayak: Pelajaran Marketing Kehormatan

www.papercutzinelibrary.org – Pemberian gelar adat Dayak kepada Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin bukan…

1 hari ago

Safari Wukuf 2026 dan Arah Baru Kebijakan Ekonomi Haji

www.papercutzinelibrary.org – Puncak haji 2026 menyimpan kisah berbeda melalui keberangkatan 267 jemaah yang mengikuti program…

2 hari ago

Niat Sholat Idul Adha dan Renungan Tentang Meninggal

www.papercutzinelibrary.org – Setiap kali memasuki hari raya Idul Adha, suasana masjid terasa berbeda. Takbir berkumandang,…

3 hari ago

Festival Cerutu Cigarnesia 2026: Gaya, Rasa, Cerita

www.papercutzinelibrary.org – Cerutu selalu punya cara istimewa mengundang orang berkumpul. Asapnya perlahan menari, aromanya mengisi…

4 hari ago

Mengkaji Ulang Susu Formula di Program Makan Bergizi Gratis

www.papercutzinelibrary.org – Perdebatan mengenai pemberian susu formula kembali mengemuka setelah Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)…

5 hari ago