Kejar Paket di Lapas Sidoarjo, Menjahit Harapan Baru
www.papercutzinelibrary.org – Sidoarjo kerap dikenal sebagai kota penyangga Surabaya, kawasan industri, sekaligus wilayah dengan dinamika sosial tinggi. Namun di balik hiruk pikuk itu, tersimpan kisah sunyi dari balik tembok Lapas Sidoarjo. Di sana, warga binaan tidak sekadar menjalani hukuman. Mereka kini menapaki kembali jejak pendidikan lewat program kejar paket. Upaya ini pelan-pelan mengubah citra penjara, dari tempat pembalasan menjadi ruang pemulihan martabat manusia.
Program kejar paket di Lapas Sidoarjo bukan sekadar kursus singkat pengisi waktu luang. Bagi banyak warga binaan, ini mungkin kesempatan pertama merasakan bangku sekolah dengan teratur. Ada yang dulunya putus sekolah karena biaya, ada pula yang terjebak pergaulan jalanan sejak remaja. Melalui kelas-kelas sederhana, papan tulis seadanya, serta guru yang sabar, kejar paket menjadi jembatan menuju kemandirian berkelanjutan ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
Pendidikan kejar paket di Lapas Sidoarjo disusun bertahap mengikuti struktur Paket A, B, serta C. Program ini berkolaborasi dengan lembaga pendidikan nonformal di daerah Sidoarjo sehingga kurikulum tetap terarah. Warga binaan mengikuti pelajaran dasar seperti literasi, numerasi, ilmu sosial, juga pengetahuan praktis. Meski suasananya berbeda dari sekolah umum, atmosfer belajar terasa serius. Setiap jam pelajaran menjadi ruang hening refleksi sekaligus investasi masa depan.
Bagi banyak warga binaan di Sidoarjo, ijazah kejar paket ibarat kunci baru. Tanpa dokumen pendidikan, pintu pekerjaan sesudah bebas mudah tertutup. Dunia kerja kini menuntut minimal ijazah setara SMP atau SMA. Kejar paket memberi mereka landasan legal untuk melamar pekerjaan resmi, melanjutkan kursus kejuruan, bahkan meneruskan kuliah jika tekad cukup kuat. Di titik itu, penjara berubah menjadi titik tolak, bukan akhir cerita.
Sebagai penulis, saya melihat kejar paket di Lapas Sidoarjo sebagai salah satu bentuk keadilan yang lebih manusiawi. Hukuman tidak menghapus hak dasar untuk belajar. Justru pendidikan memperbesar peluang seseorang agar tidak mengulangi kesalahan. Bukan rahasia bila banyak pelanggaran hukum berakar pada rendahnya pendidikan. Menghadirkan kelas kejar paket berarti memutus lingkaran itu, perlahan tetapi pasti. Negara hadir bukan hanya menghukum, juga membina.
Istilah kemandirian berkelanjutan sering muncul dalam kebijakan, namun sering kali terasa abstrak. Di Lapas Sidoarjo, konsep tersebut turun ke praktik nyata. Kejar paket disandingkan dengan pelatihan kerja, keterampilan wirausaha, serta bimbingan kepribadian. Jadi, ilmu pengetahuan bertemu kemampuan praktis. Warga binaan tidak hanya belajar menghitung atau menulis, mereka juga belajar merencanakan masa depan dengan lebih realistis berbasis kompetensi.
Contohnya, seseorang di Lapas Sidoarjo mengikuti kejar paket setara SMP lalu melanjutkan pelatihan menjahit. Secara teori, ia belajar matematika terapan, pengetahuan bahan, juga dasar manajemen usaha kecil. Secara praktik, ia memegang mesin jahit, menyusun pola, serta menerima pesanan dari mitra luar. Ketika masa hukuman selesai, modal pengetahuan plus keterampilan tersebut bisa menjadi pijakan untuk membuka usaha rumahan atau bekerja di konveksi lokal.
Dari sudut pandang saya, kemandirian berkelanjutan baru benar-benar hidup jika ada jembatan antara lapas dengan ekosistem sosial ekonomi di Sidoarjo. Program kejar paket akan jauh lebih kuat jika terhubung dengan dunia industri kecil, komunitas usaha mikro, juga lembaga sosial. Dukungan ini bisa berbentuk penerimaan tenaga kerja eks warga binaan, magang terstruktur, hingga pendampingan usaha rintisan. Tanpa ekosistem pendukung, cita-cita kemandirian mudah terhenti di dalam kelas.
Tantangan terbesar program kejar paket di Lapas Sidoarjo terletak pada stigma, konsistensi, serta dukungan sumber daya. Meskipun begitu, harapan tetap terbuka lebar bila masyarakat bersedia memandang warga binaan sebagai manusia yang sedang belajar memperbaiki diri. Bagi saya, kisah-kisah kejar paket di Sidoarjo mengingatkan bahwa pendidikan adalah hak, bukan hadiah bagi mereka yang hidup tanpa cela. Penjara seharusnya menjadi ruang jeda untuk menata ulang arah hidup. Refleksi akhirnya sederhana namun tajam: mutu sebuah kota, termasuk Sidoarjo, tidak hanya tampak pada gedung megahnya, tetapi juga pada caranya memberi kesempatan kedua bagi warganya yang pernah tersesat.
www.papercutzinelibrary.org – Industri baja bukan sekadar urusan pabrik raksasa dan cerobong asap. Di baliknya, ada…
www.papercutzinelibrary.org – Pembahasan mengenai pemprov NTB hampir selalu identik dengan inovasi pariwisata, pembangunan infrastruktur, atau…
www.papercutzinelibrary.org – Operasi Keselamatan Singgalang 2026 mulai digelar di Sumatera Barat dengan sorotan besar pada…
www.papercutzinelibrary.org – Harapan terhadap pemulihan kinerja asuransi kendaraan pada 2026 kembali mencuat seiring arah kebijakan…
www.papercutzinelibrary.org – Pembahasan soal pemilihan pejabat baru OJK kembali ramai, tetapi sorotan publik belum sepenuhnya…
www.papercutzinelibrary.org – Keputusan Pemerintah Kabupaten Bantul untuk membebaskan pajak Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dan…