Empat Puluh Tahun Menjaga Papan Tulis
www.papercutzinelibrary.org – Empat puluh tahun mengajar, lalu pulang dengan gaji terakhir Rp414 ribu. Angka itu terasa seperti catatan kaki di akhir bab panjang pengabdian. Di balik bilangan yang nyaris setara ongkos bulanan, ada sosok yang akrab disapa Bu Ijah, guru honorer dari sebuah sekolah negeri biasa di pinggir kota. Kisahnya viral, tetapi sejujurnya, kisah serupa telah berulang di banyak tempat, hanya saja jarang diberi panggung. Angka Rp414 ribu seakan menjadi cermin bagaimana profesi mulia ini kerap diposisikan paling belakang dalam antrean penghargaan.
Postingan ini tidak bertujuan meratapi nasib, melainkan membedah makna pengabdian yang terlanjur dianggap wajar dibayar murah. Empat dekade di ruang kelas bukan sekadar rangkaian upacara Senin, lembar RPP, serta tumpukan buku latihan. Itu adalah usia penuh yang dipersembahkan demi masa depan generasi lain. Saat Bu Ijah memutuskan berhenti, pertanyaannya bukan lagi mengapa ia pamit, tetapi mengapa sejarah panjang itu selesai dengan amplop bernilai ratusan ribu. Di titik ini, kita perlu menata ulang cara memandang guru honorer, juga cara negara mengukur jasa mereka.
Bayangkan awal 1980-an, ketika spidol belum menggeser kapur tulis, internet masih terdengar seperti istilah asing, serta foto kelas diambil sekali setahun. Di masa itulah Bu Ijah mulai berdiri di depan kelas. Ruang belajar sederhana, kursi kayu berderit, jendela besar menghadap halaman tanah. Setiap pagi ia menyapu lantai sebelum murid datang, lalu menghapus papan tulis yang masih penuh sisa garis kapur hari sebelumnya. Gaji tidak pernah menjadi alasan utama, bahkan mungkin tak benar-benar dibicarakan. Ia hanya tahu, tugasnya mengajar sampai anak-anak paham.
Tahun berganti, kurikulum berubah, nama mata pelajaran berkali-kali disusun ulang. Murid berganti generasi, dari anak petani, buruh, hingga pegawai pabrik. Telepon genggam masuk kelas, lalu internet mengubah cara belajar. Namun satu hal konsisten: status Bu Ijah tetap honorer. Ia menyaksikan rekan seangkatan diangkat menjadi pegawai negeri, sementara dirinya terus bergantung pada kebijakan kepala sekolah, bantuan komite, atau program insentif yang datang tidak menentu. Setiap rapat kenaikan pangkat, ia hadir, tetapi hanya sebagai penonton yang sopan tersenyum.
Dari kisah panjang ini, tampak jelas bahwa sistem sering memanfaatkan loyalitas tanpa memberi kepastian. Menjadi honorer bukan persoalan satu dua tahun. Ada yang terjebak hingga puluhan tahun, seperti Bu Ijah. Ketika program rekrutmen aparatur sipil negara diperketat, batas usia pun memotong harapan. Orang-orang seperti Bu Ijah akhirnya menyadari bahwa pengabdian mereka tidak otomatis diterjemahkan menjadi status resmi, walaupun sekolah akan kehilangan sosok penting ketika mereka pergi. Paradoks ini menyakitkan, namun sudah terlalu lama dianggap wajar.
Gaji terakhir Bu Ijah sebesar Rp414 ribu terdengar seperti salah ketik. Tetapi itu nyata, tercatat rapi di slip upah bulanan. Bila dihitung kasar, jumlah tersebut bisa habis hanya untuk biaya transport ke sekolah, sedikit uang makan, serta iuran kecil di lingkungan. Sisanya? Hampir tidak tersisa. Fakta ini menampar logika ekonomi. Di sisi lain, cerita tersebut menunjukkan betapa banyak guru honorer bertahan dengan cara mengurangi kebutuhan pribadi, mengandalkan penghasilan sampingan, atau dukungan keluarga.
Dari sudut pandang pribadi, angka Rp414 ribu terasa lebih sebagai sindiran struktural dibanding kompensasi. Seolah-olah negara berkata, “Kami mengakui jasamu, tetapi sekadar sebesar ini.” Padahal, guru menjadi garda terdepan pembentukan karakter warga. Anak-anak belajar membaca, berhitung, hingga memahami etika sosial di kelas-kelas yang dijaga orang seperti Bu Ijah. Ketimpangan antara peran dan imbalan memperlihatkan ada sesuatu keliru dalam prioritas kebijakan. Bukan sekadar soal dana, melainkan cara menyusun skala nilai.
Kita sering mengulang slogan “guru pahlawan tanpa tanda jasa”. Kalimat itu terdengar indah, tetapi juga berbahaya ketika dijadikan alasan menunda perbaikan nasib. Pahlawan seolah harus ikhlas terus-menerus, walau hak minimum pun belum terpenuhi. Menurut saya, istilah tersebut mesti direvisi dalam benak publik. Guru tetap pahlawan, tetapi pahlawan juga manusia yang berhak hidup layak, membayar listrik tepat waktu, menyekolahkan anak tanpa waswas soal biaya. Jika tidak, penghormatan berubah menjadi romantisasi penderitaan.
Kisah Bu Ijah bukan peristiwa tunggal, melainkan pintu masuk menelusuri luka lama sistemik. Kebijakan pengangkatan aparatur, perencanaan anggaran pendidikan, hingga cara sekolah mengelola honorer berlapis-lapis kepentingan. Sering terdengar janji penataan, pendataan, hingga pengangkatan bertahap, tetapi di akar rumput, guru masih menandatangani absensi dengan status sama dari tahun ke tahun. Bagi saya, kisah ini seharusnya menggugah kemarahan produktif: kemarahan yang mendorong penyusunan regulasi lebih adil, mendorong pemerintah daerah berani memprioritaskan anggaran, serta menggerakkan masyarakat menolak normalisasi ketidakadilan. Pada akhirnya, cara kita memperlakukan guru hari ini akan tercermin dalam kualitas generasi mendatang; jika penghargaan tetap rendah, jangan heran bila profesi mulia ini semakin sepi peminat, sementara ruang kelas terus menunggu sosok setangguh Bu Ijah.
Mengajar selama puluhan tahun dengan gaji sangat kecil menuntut pengorbanan yang tidak tampak di permukaan. Selama ini, publik hanya melihat guru berdiri di depan papan tulis, lalu pulang saat bel terakhir berbunyi. Padahal, banyak guru honorer seperti Bu Ijah menghabiskan sore hingga malam menyusun materi, memeriksa tugas, serta menyiapkan ujian, tanpa hitungan lembur. Waktu bersama keluarga sering dikorbankan, sementara penghasilan tambahan diperoleh lewat les privat, berdagang kecil-kecilan, atau membantu usaha pasangan.
Salah satu ironi terbesar: murid yang dulu diajar justru bisa tumbuh menjadi profesional dengan gaji berkali-kali lipat dari pengajarnya. Tentu itu kebanggaan tersendiri bagi seorang guru. Namun kebanggaan tersebut tidak boleh menjadi alasan membiarkan ketimpangan terus berlangsung. Menurut saya, penghormatan tertinggi kepada guru bukan sebatas ucapan manis saat hari besar pendidikan, tetapi keberanian merombak struktur upah. Mengurangi ketergantungan pada status honorer jangka panjang serta mendorong mekanisme pengangkatan lebih manusiawi.
Pengorbanan sunyi semacam ini sering luput dari catatan resmi. Dalam dokumen laporan, mungkin hanya tertulis “tenaga pendidik honorer”. Tidak ada statistik yang menggambarkan berapa kali mereka menunda cek kesehatan, berapa banyak kesempatan pribadi dilepas. Ketika kita mengulangi slogan “pendidikan investasi masa depan”, seharusnya kita juga bertanya: siapa yang selama ini membayar biaya sosial terbesar dari investasi tersebut? Jawabannya kerap kembali pada sosok-sosok sepuh di ruang guru yang masih menunggu kepastian.
Keputusan Bu Ijah berhenti setelah empat puluh tahun bukanlah tindakan tiba-tiba. Ada lelah fisik, ada juga lelah batin. Tubuh mungkin sudah tidak sekuat dulu menyapu kelas, mengatur barisan, memantau anak-anak aktif di lapangan. Namun yang lebih berat, menurut saya, adalah rasa jenuh menghadapi ketidakpastian tanpa ujung. Sementara rekan-rekan sebaya sudah menikmati masa pensiun resmi, ia tetap bergantung pada amplop honorer yang tak seberapa. Ketika akhirnya memilih mundur, itu adalah bentuk pernyataan bahwa batas kesabaran manusia ada.
Dari sudut pandang murid dan sekolah, kepergian guru sepuh seperti Bu Ijah meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan. Pengganti mungkin lebih muda, lebih melek teknologi, tetapi belum tentu memiliki kedalaman pengalaman mengelola kelas serta memahami karakter anak secara halus. Ada kearifan lokal yang tumbuh bertahun-tahun, tertanam lewat tatapan dan cara menegur. Semua itu pergi pelan-pelan saat sang guru pamit tanpa upacara besar, hanya ucapan terima kasih singkat.
Menariknya, kisah berhenti ini baru viral ketika muncul di media sosial. Artinya, selama puluhan tahun sebelumnya, pengabdian tersebut berjalan nyaris tanpa sorotan. Kita cenderung baru ikut peduli setelah melihat angka Rp414 ribu terpampang di layar gawai. Di sini saya melihat sisi positif sekaligus sisi miris. Positif, karena publik mulai tergugah. Miris, karena butuh kejutan digital agar masyarakat menoleh pada kenyataan lama di ruang kelas. Tantangannya, bagaimana perhatian ini diubah menjadi tekanan publik berkelanjutan, bukan sekadar obrolan sesaat.
Kisah Bu Ijah seharusnya menjadi alarm keras bagi masa depan profesi guru di Indonesia. Jika generasi muda melihat bahwa empat puluh tahun mengajar bisa berakhir dengan gaji terakhir Rp414 ribu, mereka mungkin ragu menjadikan guru sebagai pilihan utama karier. Pada titik ini, reformasi tidak boleh berhenti pada wacana. Diperlukan keberanian menghapus pola honorer jangka panjang, menyusun skema penggajian yang jelas, serta memastikan jaminan sosial layak bagi pendidik. Menurut saya, menghargai guru berarti juga berani mengubah anggaran, menggeser prioritas, serta memperlakukan kelas bukan sebagai ruang murah meriah, tetapi sebagai pondasi peradaban. Bila tidak, kita akan terus bercerita tentang sosok-sosok seperti Bu Ijah dengan nada haru, tanpa pernah benar-benar menghentikan lahirnya kisah serupa. Pada akhirnya, kesimpulan paling jujur ialah: kualitas masa depan bangsa sangat ditentukan oleh keberanian hari ini menghormati guru, bukan sekadar lewat slogan, melainkan melalui kebijakan konkret yang membuat mereka dapat menutup buku pelajaran dengan kepala tegak dan hidup layak.
www.papercutzinelibrary.org – Setiap tahun, tanggal 10 Muharram selalu menghadirkan nuansa berbeda bagi kaum muslimin. Bukan…
www.papercutzinelibrary.org – Parfum sudah menjadi bagian penting dari rutinitas harian, bukan sekadar pemanis penampilan. Aroma…
www.papercutzinelibrary.org – Taman Menara Limboto di Gorontalo tiba-tiba naik pamor menjelang acara puncak PENAS. Ruang…
www.papercutzinelibrary.org – Primbon Jawa sering disebut sebagai peta batin kehidupan. Bukan sekadar hitungan hari lahir,…
www.papercutzinelibrary.org – Marketing gaya hidup sehat beberapa tahun terakhir menjadikan madu seolah “bintang iklan” di…
www.papercutzinelibrary.org – Setiap kali 1 Muharram tiba, sebagian besar dari kita hanya mengingatnya sebagai pergantian…